Menanam Iman di Bumi Hijau: Jejak Dakwah Rusman Lajuha Tola
Ia memilih jalannya sendiri — menyampaikan pesan keagamaan lewat gerakan pelestarian alam yang ia sebut Dakwah Hijau. Gerakan ini mengajak masyarakat untuk melihat lingkungan bukan sekadar sumber daya, tetapi sebagai amanah Tuhan yang harus dijaga dengan cinta dan tanggung jawab.
Rusman memulai kariernya sebagai penyuluh agama pada tahun 2010 di KUA Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru. Saat itu, ia mengaku sempat ragu menekuni profesi ini.
“Dari segi finansial memang tidak menjanjikan, tapi entah kenapa profesi ini terasa sangat menarik,” kenangnya.
Setahun kemudian, Rusman benar-benar jatuh cinta pada dunia penyuluhan. Ia menemukan makna dalam membantu masyarakat memahami ajaran agama dan memperbaiki kehidupan mereka.
Inspirasi datang dari banyak tokoh, salah satunya Iwan Dento — pegiat lingkungan dari Rammang-Rammang, Maros — yang memperkenalkan padanya konsep dakwah berbasis alam.
“Dari situ saya belajar bahwa menjaga bumi juga bagian dari ibadah,” ujarnya, Sabtu 25 Oktober 2025.
Lahirnya Konsep Dakwah Hijau
Ide Dakwah Hijau lahir dari keresahan hati Rusman. Saat menyaksikan semakin parahnya kerusakan lingkungan di sekitar Barru — sampah plastik yang menumpuk, sungai yang tercemar, dan kebiasaan masyarakat yang abai terhadap alam.
Ia lalu merenung. Bagaimana jika pesan dakwah tidak hanya berbicara soal akidah dan ibadah, tapi juga tentang kelestarian bumi yang menjadi tempat hidup umat manusia? Bagi Rusman, pelestarian alam adalah bentuk syukur kepada Allah.
“Menjaga alam sama dengan menjaga kehidupan. Semua kelangsungan hidup umat tergantung dari kualitas alam,” katanya tegas.
Melalui Dakwah Hijau, ia mengajak masyarakat menanam pohon, mengelola limbah plastik dan kayu pantai, serta membangun Rumah Buku, wadah literasi yang menggabungkan edukasi lingkungan dan nilai-nilai keislaman.
Dakwah dari Alam ke Dunia Digital
Tidak hanya di lapangan, Rusman juga memanfaatkan ruang digital untuk berdakwah. Ia aktif berbagi pesan dan kegiatan melalui YouTube Channel “Rusman Lajuha Tola”, tempatnya berbicara tentang keislaman, kebersihan, dan gaya hidup ramah lingkungan.
Menurutnya, media sosial adalah “mimbar baru” bagi penyuluh masa kini. “Kalau penyuluh tidak melek IT, kita akan tertinggal oleh sasaran dakwah kita sendiri,” ujarnya.
Lewat video pendek, Rusman mampu menjangkau audiens muda yang mungkin jarang datang ke masjid, namun aktif di dunia maya. Ia menyampaikan pesan dengan bahasa ringan, visual menarik, dan pendekatan positif.
Tantangan dan Kolaborasi
Gerakan Dakwah Hijau tidak selalu berjalan mulus. Dukungan dari lingkungan sekitar sempat minim, bahkan ada yang meragukan relevansinya. Namun, Rusman tetap teguh.
Ia percaya perubahan besar dimulai dari langkah kecil. “Harus dimulai dari pribadi dulu. Sekecil apa pun aksi kita, pasti ada dampaknya,” ujarnya penuh keyakinan.
Kini, Dakwah Hijau menjadi gerakan lintas komunitas. Rusman berkolaborasi dengan Kemenag Barru, KPH Ajatappareng, komunitas peduli sungai se-Sulawesi Selatan, hingga komunitas GUSDURian, PMII, HMI, dan Karang Taruna.
Kerja bersama itu memperkuat pesan bahwa pelestarian alam adalah tanggung jawab semua pihak — tanpa memandang agama, usia, atau profesi.
Perjuangan Rusman tak luput dari perhatian. Tahun 2025, ia dianugerahi Penyuluh Agama Islam (PENAIS) Award dalam kategori Pelestarian Lingkungan.
Penghargaan ini menjadi bukti nyata bahwa dakwah yang relevan dengan zaman bisa membawa dampak besar bagi masyarakat. Namun, Rusman tetap rendah hati. “Ini bukan pencapaian pribadi, tapi hasil kerja bersama masyarakat dan rekan-rekan penyuluh,” tuturnya.
Baginya, penghargaan hanyalah pengingat bahwa perjuangan menjaga bumi belum selesai. Bagi Rusman, menjaga alam bukan sekadar pekerjaan, tapi bentuk cinta.
Ia berharap generasi muda tumbuh dengan kesadaran ekologis yang kuat dan tidak ragu berdakwah di jalannya masing-masing. “Selalu optimis, rawat semangat literasi, perbanyak jejaring, dan tuntaslah dengan dirimu,” pesannya kepada anak muda.
Ia percaya masa depan penyuluhan agama akan semakin dinamis jika penyuluh berani keluar dari zona nyaman, berinovasi, dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
“Penyuluh harus terampil, kreatif, dan berwawasan luas. Dan yang paling penting, sadar literasi, sadar IT, dan sadar lingkungan,” ujarnya.
Kini, nama Rusman Lajuha Tola identik dengan penyuluh yang menanam iman sekaligus menumbuhkan alam. Dari tanah Barru, ia menyebarkan pesan sederhana namun mendalam: “Kita jaga bumi, dan bumi akan menjaga kita.”
Melalui Dakwah Hijau, Rusman mengajarkan bahwa agama dan alam tak bisa dipisahkan. Bahwa keimanan sejati bukan hanya tentang ibadah ritual, tapi juga tentang bagaimana manusia memperlakukan bumi yang menjadi titipan Tuhan. (MH)

MasyaAllah, berkah selalu. semoga kita semua mendapat pahala yang sebanding dengan perbuatan kita dan dapat membanggakan kedua orang tua kita. Aamiin🤲
BalasHapusMantap👍
BalasHapusinformasi yang sangat bermanfaat, terimakasih 🙏🤍
BalasHapusWih, kamu keren kontennya, mantap 🔥
BalasHapusIsi artikel ini sangat menarik dan relevan dengan topik yang dibahas. Saya jadi lebih paham setelah membacanya
BalasHapusHallo temanku, sering sering memposting hal-hal yang baik😇
BalasHapusMasyaAllah Tabarakallah 🥰
BalasHapusSemoga Ilmu Yang diberikan dapat membawa banyak manfaat
BalasHapusMasyaAllah , semoga ilmunya bermanfaat bagi kita semua Aamiinn🤲🏻
BalasHapusKerenn
BalasHapusInformasi sangat membantu👍
BalasHapus