Konsistensi Umat dengan Kitab Suci dalam Beragama
Zaman ketika masih ada para pendiri agama,baik itu seorang nabi atau tokoh bijak yang menjadi parameter utama justifikasi ajaran agama,menjadi tidak sulit dalam memahami dan masyarakat banyak berbondong-bondong bersimpati dan menjadi pengikut agama tersebut. Agama menjadi urusan yang sangat mudah, baik dari segi ritualis nya maupun dalam pengamalan kehidupan sosial-masyarakat, bahkan beberapa agama abrahamik seperti Kristen dan Islam pada bagian kisah-kisah kehidupan tokoh utama pendiri agama tersebut seringkali ditampilkan sebagai tokoh yang dekat dengan orang terpinggirkan dan justru menjadi aktor yang paling banyak berkorban untuk pengikutnya.
Selaras dengan pendapat ahli Max Weber (1864--1920), sosiolog klasik, menjelaskan tentang agama dimana pada masa awal berkembang melalui otoritas karismatik. Pendiri agama mendapatkan legitimasi bukan dari institusi atau tradisi tertulis, melainkan dari keteladanan personal, pengalaman spiritual, dan pengorbanan nyata.
Sebut saja kisah nabi Muhammad dalam khutbah wada' soal deklarasi universal persamaan kelas atau kisah Yesus Kristus berdebat dengan orang farisi di bait Allah dan mengoreksi feodalisme orang-orang farisi dalam memandang keimanan hanya berdasarkan sifat ritualis saja dan bukan mengutamakan kemurnian hati kepada Allah, menjadi hal yang ikonik sebagai daya tarik agama dalam pengentasan feodalisme masyarakat.
Menjadi hal yang sangat kontras di zaman sekarang ketika dakwah agama tidak berfokus kepada apa yang diamanatkan oleh para tokoh pendiri agama di zaman permulaan agama itu lahir, ini terjadi dikarenakan kurangnya pemahaman mendalam tokoh agama dan longgarnya sertifikasi kepakaran mendalam sebelum turun ke umat, sehingga dakwah agama saat ini hanya cenderung kepada arah entertainment saja dan menjadikan umat bukan sebagai objek untuk dibimbing,melainkan objek untuk dikapitalisasi secara ekonomi.Oleh karena itu, patutlah agama saat ini menjadi objek yang kurang baik dalam perbaikan adab umatnya.
Bukan salah dari ajaran agama tersebut, tetapi banyak nya dakwah entertainment yang lebih populer di zaman ini, sehingga pola ibadah yang tidak sesuai kitab suci dan muncul nya kebiasaan baru dalam beragama yang dilakukan oleh umat, dan menjadi terasa asing di telinga ketika ada tokoh agama yang benar-benar mengajarkan esensi beragama sesuai prinsip yang telah diajarkan oleh para pendiri agama di zaman dahulu. Patutlah ada banyak amanat akhir zaman dari para nabi atau pendiri agama yang menggambarkan hanya sedikit sekali yang masuk surga di akhir zaman, sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW: "Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang yang asing" (HR. Muslim no. 145)."
Asinglah orang yang benar-benar searah dengan pemuka agama nya, hal ini terjadi akibat materialisme dan relativisme merebak dikalangan masyarakat saat ini, dimana lemahnya penerapan kitab suci akibat dari lemahnya pula ikut serta pemuka agama dalam peradaban zaman dan hanya sibuk membahas ritualisme ibadah saja di rumah ibadah, sehingga ada kekosongan dalam umat beragama di ranah duniawi dan mengadopsi konsepsi dari barat.
Dalam Syarh Shahih Muslim, An-Nawawi menjelaskan:Orang "asing" merupakan mereka yang berpegang teguh pada kebenaran saat masyarakat menyimpang,Keterasingan terjadi bukan karena ajaran Islam kurang relevan, melainkan karena manusia meninggalkan substansi ajaran dan hanya mempertahankan simbolnya.
Akan tetapi, itu bukan kesalahan umat akan tetapi pemaknaan organisasi agama yang menaungi umat yang tidak ada semangat membumikan agama untuk merespon keperluan duniawi masyarakat."Harta tidak dibawa mati" akan tetapi pemuka agama nya pulang dari kajian dengan menaiki kendaraan mewah dikelilingi pengawal nya yang seolah-olah menunjukkan eksklusivitas yang terbatas kepada umat, ini merupakan kemunafikan yang sangat nyata ditunjukkan oleh pemuka agama yang membuat jauhnya penyampaian narasi kesetaraan kepada Tuhan selain bentuk ketaqwaan kepadanya menjadi semakin parah.
Oleh karena itu, menjadi hal yang sangat krusial dalam mencari pemuka agama untuk mengarahkan kita kepada kebenaran, dan haruslah mengubah paradigma dalam beragama menjadi hanya berpatokan kepada kitab suci dan amanat pendiri agama sebagai tolak ukur utama dalam beragama, ini terjadi dikarenakan relativisme berkembang sangat pesat dalam pola pikir umat dan tidak jarang dakwah hanya berdasarkan nafsu dan jabatan dalam struktur sosial,
Padahal Nabi Muhammad sendiri berkata dalam hadits nya; "Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang mulia (memiliki kedudukan) di antara mereka yang mencuri, maka mereka biarkan (tidak dihukum)."Namun, jika yang mencuri adalah orang yang lemah (rakyat biasa), maka mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya." (HR. Bukhari no. 6788 dan Muslim no. 1688).
Dunia saat ini sangat tidak adil, dimana buktinya saja banyak pemuka agama berkasus bahkan atas kelalaian nya sendiri, pemerintah tidak berupaya menghukum mereka hanya karena massa nya sangat banyak dan umat pun takut berlaku adil kepada pemuka agama nya sendiri karena takut kena azab dari Tuhan sekalipun kezaliman sudah terjadi di depan mata.
Komentar
Posting Komentar