Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Adakah Dalil Mencium Tangan Guru dalam Islam?

 Adakah Dalil Mencium Tangan Guru dalam Islam? Tradisi mencium tangan guru, kiai atau ustadz masih lekat dalam kehidupan masyarakat muslim Indonesia, terutama di lingkungan pesantren dan majelis taklim. Aksi ini sering dipahami sebagai bentuk penghormatan kepada orang berilmu. Namun, di tengah maraknya diskusi tentang kemurnian ajaran Islam, muncul pertanyaan: Apakah mencium tangan guru memiliki dasar dalam Islam? Praktik Para Sahabat Mencium tangan saat bersalaman bukanlah praktik baru dalam sejarah Islam. Dalam satu riwayat disebutkan, para sahabat pernah mencium tangan bahkan kaki Nabi Muhammad sebagai wujud penghormatan: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ خُلَيْدٍ ، قَالَ : نا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى الطَّبَّاعُ ، قَالَ : نا مَطَرُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الأَعْنَقُ ، عَنْ أُمِّ أَبَانَ بِنْتِ الْوَازِعِبْنِ الزَّارِعِ ، عَنْ جَدِّهَا الزَّارِعِ ، وَكَانَ فِي وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ : لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ ، جَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا ، فَنُقَبِّلُ يَدَيِ ا...

Menanam Iman di Bumi Hijau: Jejak Dakwah Rusman Lajuha Tola

 Menanam Iman di Bumi Hijau: Jejak Dakwah Rusman Lajuha Tola Di tengah gempuran modernisasi dan krisis lingkungan, peran penyuluh agama sering dianggap terbatas pada ceramah dan pembinaan umat. Namun, bagi Rusman Lajuha Tola, penyuluh agama Islam dari Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, dakwah tidak berhenti di mimbar masjid. Ia memilih jalannya sendiri — menyampaikan pesan keagamaan lewat gerakan pelestarian alam yang ia sebut Dakwah Hijau. Gerakan ini mengajak masyarakat untuk melihat lingkungan bukan sekadar sumber daya, tetapi sebagai amanah Tuhan yang harus dijaga dengan cinta dan tanggung jawab. Rusman memulai kariernya sebagai penyuluh agama pada tahun 2010 di KUA Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru. Saat itu, ia mengaku sempat ragu menekuni profesi ini. “Dari segi finansial memang tidak menjanjikan, tapi entah kenapa profesi ini terasa sangat menarik,” kenangnya. Setahun kemudian, Rusman benar-benar jatuh cinta pada dunia penyuluhan. Ia menemukan makna dalam memba...

Relevansi Agama di Kalangan Generasi Muda

 Relevansi Agama di Kalangan Generasi Muda Fenomena pemuda dengan perilaku yang sangat frontal dan sulit untuk diarahkan salah satu alasannya ialah kurangnya pengetahuan agama. Agama sebagai jalan hidup pemberi rambu-rambu yang jelas menjadi sebuah keharusan bagi setiap orang mempelajari serta menjalankan apa yang diyakininya. Korelasi kemuduran moral dan intelektual pemuda saat ini terjadi implikasi pembelajaran agama yang seolah tidak diajarkan dengan terstruktur bahkan terkesan diabaikan. Jika dirunut jumlah sekolah atau bahkan guru agama di seluruh pelosok negeri sangat banyak, tentu menjadi sebuah ironi. Apa yang sebenarnya membuat pemuda dengan tingkat pengetahuan dan aktualisasi agama yang mundur. Dalam prakteknya, pengajaran agama sedikit berbeda dari pengajaran yang lain yakni dibutuhkan ketekunan dan kefahaman untuk menjelaskan maksud dan tujuan sebuah ajaran agama tersebut. Akselerasi zaman yang menjadi cambuk dalam dunia pendidikan, memacu adrenalin para guru untuk bera...

Melampaui Kotak Identitas : KTP ke Spriritualitas dalam Hati

 Melampaui Kotak Identitas : KTP ke Spriritualitas dalam Hati Agama, dalam KTP, sering dipersempit menjadi kotak identitas yang kaku: tercetak rapi, tetapi dingin dan diam. Ia hadir sebagai data administratif, bukan sebagai denyut makna yang hidup. Di titik inilah pertanyaan perlu diajukan dengan jujur dan berani: apakah esensi beragama sungguh berhenti pada kolom yang diisi negara, atau justru bermula dari hati yang digerakkan nurani? Dari sini, sebuah pergeseran paradigma menjadi mendesak: dari agama sebagai label legal menuju spiritualitas sebagai penghayatan hidup yang memanusiakan, yang bernapas dalam tindakan, relasi, dan tanggung jawab terhadap sesama. Dilema "Kotak" Administratif vs. "Ruang" Batin KTP hadir sebagai alat kenegaraan yang sah. Ia menata administrasi, menjamin hak sipil, dan memudahkan layanan publik. Di sana agama dicatat sebagai identitas resmi, rapi dan tegas. Namun iman tidak hidup di dalam kolom. Ia bersemayam di dalam kesadaran. Di dalam p...

Ketika Agama Dibahas di Kolom Komentar

 Ketika Agama Dibahas di Kolom Komentar  Pada  waktu lalu, saya membaca komentar di sebuah unggahan video ceramah yang sebenarnya cukup singkat. Isinya sederhana yaitu “mengingatkan tentang ibadah dan akhlak”. Tapi yang menarik bukan videonya melainkan komentarnya. Ada orang yang setuju, ada orang yang menyanggah, ada juga orang yang saling menyindir dengan membawa dalil masing-masing. Disitu aku berhenti sejenak dan mulai berpikir: kenapa ya, obrolan soal agama di zaman sekarang rasanya lebih sering ribut daripada menenangkan? Pada saat ini, agama tidak hanya hadir di masjid, gereja, atau rumah ibadah. Agama juga hadir di media sosial seperti Instagram, FYP TikTok, dan status WhatsApp. Setiap orang bisa mudah sekali untuk berbagi kutipan ayat, potongan ceramah, bahkan opini keagamaan dalam hitungan detik. Ini tentu sebuah hal baik. Akses terhadap ilmu agama jadi lebih terbuka dan lebih meluas. Banyak orang yang awalnya jauh dari agama justru mulai tertarik dengan agama k...

Pentingnya Shalat dalam Peristiwa Isra' dan Mi'raj

 Pentingnya Shalat dalam Peristiwa Isra' dan Mi'raj Perlu benar-benar diperhatikan bahwa satu-satunya ibadah yang Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam  terima langsung dari Allah adalah perintah shalat. Untuk mendapatkan perintah ini, beliau juga melakukan perjalanan yang sangat luar biasa yaitu isra’ dan mi’raj. Kisah ini diabadikan dalam Al-Quran, Allah berfirman, سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”  (QS. Al-Isra` : 1).O Oleh karena itu, kedudukan shalat sangat penting dalam Islam. Jadi, sudah seharusnya kita sebagai umat muslim men...

Kesadaran Tanggung Jawab Personal dan Kematangan Psikologis dalam Surat Al-Baqarah Ayat 48

 "Kesadaran Tanggung Jawab Personal dan Kematangan Psikologis dalam Surat Al-Baqarah Ayat 48 " Surat Al-Baqarah ayat 48 adalah salah satu ayat yang tidak memberi ruang bagi manusia untuk bersembunyi. Ia tidak datang sebagai nasihat yang menenangkan, tetapi sebagai peringatan yang menghentak kesadaran. Ayat ini seolah menarik manusia keluar dari hiruk-pikuk dunia, menempatkannya sendirian, lalu berkata dengan tegas: akan datang suatu hari ketika tidak ada siapa pun yang bisa menolongmu. Tidak anak, tidak orang tua, tidak guru, tidak tokoh yang kau banggakan, bahkan tidak identitas keimanan yang selama ini kau jadikan sandaran psikologis.  Pada hari itu, manusia berdiri sendirian, telanjang dari semua alasan. secara emosional, ayat ini menabrak kebutuhan terdalam manusia untuk merasa aman. Sejak kecil, manusia terbiasa bergantung: pada orang tua, pada lingkungan, pada sistem sosial. Ketergantungan ini membentuk rasa aman semu—bahwa selalu ada pihak lain yang bisa dimintai tolon...

Bolehkah Perempuan Menyembelih Ayam atau Hewan Sembelihan Lainnya?

  Bolehkah Perempuan Menyembelih Ayam atau Hewan Sembelihan Lainnya? alam ajaran Islam, penyembelihan hewan bukan sekadar sarana untuk mendapatkan makanan berupa daging. Lebih dari itu, penyembelihan merupakan suatu proses yang akan menentukan daging dari seekor hewan akan menjadi halal untuk dikonsumsi. Dalam praktiknya, penyembelihan hewan biasanya dilakukan oleh kalangan laki-laki. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan, apakah perempuan boleh menyembelih ayam atau hewan sembelihan lainnya? Imam An-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzzab menjelaskan, dalam proses penyembelihan hewan sembelihan, seperti ayam, domba, atau sapi, orang yang dianjurkan melakukannya adalah laki-laki. Alasannya adalah karena tenaga laki-laki cenderung lebih kuat dibandingkan perempuan. Namun demikian, penyembelihan yang dilakukan oleh perempuan tetap dinilai sah dan dibolehkan. Hal ini berdasarkan pada hadits Nabi tentang budak perempuan yang menyembelih kambing dengan pecahan batu. Hadits yang ...

Bolehkah Minum Obat yang Bahannya Terbuat dari Najis

Bolehkah Minum Obat yang Bahannya Terbuat dari Najis? Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, ada kalanya seseorang mengalami kondisi sakit yang mendorongnya berobat agar bisa mendapat kesembuhan. Terkadang, dalam praktik pengobatan ditemukan obat yang bahan dasarnya terbuat dari najis. Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan, apakah boleh minum obat yang bahanya terbuat dari najis? Berkaitan dengan obat yang berbahan najis, Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu Syarah al-Muhadzdzab menjelaskan, ulama Syafi’iyyah membolehkan seseorang untuk meminum obat yang berbahan dari najis, selama obat tersebut bukan berasal dari jenis minuman keras ( khamar ). وَأَمَّا التَّدَاوِي بِالنَّجَاسَاتِ غَيْرِ الْخَمْرِ فَهُوَ جَائِزٌ سَوَاءٌ فِيهِ جَمِيعُ النَّجَاسَاتِ غَيْرُ الْمُسْكِرِ هَذَا هُوَ الْمَذْهَبُ وَالْمَنْصُوصُ وَبِهِ قَطَعَ الْجُمْهُورُ Artinya: “ Adapun berobat dengan benda-benda najis selain khamar, hukumnya adalah boleh, ketentuan ini berlaku untuk semua jenis najis yang tidak memabukk...

4 Cara Menghilangkan Riya menurut Imam Al-Ghazali

4 Cara Menghilangkan Riya menurut Imam Al-Ghazali Penyakit batin yang rentan menjangkit hati orang mukmin adalah riya, yakni melakukan ibadah namun hatinya ingin mendapatkan perhatian atau pujian dari manusia. Penyakit “tak kasat mata” ini memiliki daya rusak yang luar biasa terhadap amal yang dilakukan. Oleh karena itu, para ulama mengingatkan umat Islam agar menghindari riya saat beribadah. Di antara ulama tersebut adalah Imam Al-Ghazali, di dalam kitab Minhajul Abidin ia menjelaskan, ada 4 pengingat yang bisa dijadikan sebagai cara untuk menghilangkan riya saat beribadah, yakni sebagaimana berikut: 1. Menyadari Kekurangan Diri Seorang muslim hendaknya menyadari bahwa dirinya adalah makhluk lemah yang penuh dengan kekurangan. Ketika sudah menyadari kekurangan yang ada dalam diri, tentu saja seorang muslim tidak akan berharap mendapatkan pujian, apalagi hanya dari manusia. Imam Al-Ghazali kemudian mengutip firman Allah dalam Surat At-Thalaq ayat 12: اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَ...