Insan Kamil Di Era Modern: Memaknai Ulang Bertuhan Sebagai Penentu Profesionalisme Sarjana Muslim
Di tengah gemerlap pencapaian material, kemajuan teknologi yang pesat, dan kehidupan yang serba terukur, terselip sebuah kegelisahan yang mendalam. Dunia profesional modern, dengan segala standarisasi dan targetnya, kerap melahirkan manusia-manusia yang terfragmentasi. Mereka ahli dalam bidangnya, namun seperti kehilangan kompas yang lebih besar; produktif, namun kerap bertanya: untuk apa semua ini? Bagi sarjana Muslim, gelisah ini memiliki dimensi yang lebih dalam. Di satu sisi, ada tuntutan untuk bersaing secara global, menguasai ilmu pengetahuan mutakhir, dan beradaptasi dengan perubahan yang disruptif. Di sisi lain, ada panggilan spiritual untuk hidup tidak sekadar sukses secara duniawi, tetapi juga bermakna secara transendental.
Di persimpangan jalan inilah, konsep Insan Kamil -- manusia paripurna -- muncul bukan sebagai nostalgia romantis pada masa keemasan Islam, melainkan sebagai cetak biru (blueprint) yang relevan dan revolusioner bagi pembangunan karakter profesional Muslim abad ke-21. Insan Kamil di era modern bukanlah sosok sufi yang mengasingkan diri di tengah gurun, melainkan seorang ilmuwan di lab bioteknologi, seorang CEO di perusahaan rintisan teknologi, seorang arsitek yang merancang kota berkelanjutan, atau seorang guru yang mendidik generasi digital. Intinya, ia adalah profesional yang menjadikan ketuhanan (bertuhan) bukan sebagai ritual pelengkap, tetapi sebagai poros etos dan etika kerja yang membentuk profesionalisme autentiknya.
Artikel ini akan menggali bagaimana pemaknaan ulang terhadap "bertuhan" dapat menjadi penentu sekaligus pembeda bagi profesionalisme sarjana Muslim, menjadikannya kontributor utama yang membawa solusi dan rahmat di tengah kompleksitas zaman.
Secara historis-filosofis, konsep Insan Kamil paling banyak dikembangkan dalam tradisi tasawuf falsafi, terutama oleh pemikir besar seperti Ibnu Arabi dan Abdul Karim al-Jili. Bagi mereka, Insan Kamil adalah manusia universal (al-insan al-kulli) yang telah mencapai maqam spiritual tertinggi, menjadi "cermin" yang memantulkan sifat-sifat Ilahi (tajalli) di dunia, dan menjadi khalifah Allah yang sejati. Ia adalah mikrokosmos (alam shaghir) yang merefleksikan makrokosmos (alam kabir).
Dalam konteks kekinian, kita perlu melakukan "demitologisasi" terhadap konsep ini. Insan Kamil bukanlah sosok yang mistis dan tak terjangkau. Ia adalah sebuah proses menjadi (becoming), bukan sekadar status being. Ia adalah cita-cita perkembangan diri menuju keutuhan. Ciri utama Insan Kamil modern adalah integrasi, yaitu kemampuan menyelaraskan dan memadukan berbagai dimensi kehidupan yang sering dikotomikan:
1. Iman dan Ilmu: Keyakinan spiritual tidak membutakan akal, justru menjadi pendorong untuk menggali ilmu seluas-luasnya, karena alam semesta adalah ayat-ayat kauniyah-Nya. Ilmu pengetahuan tidak mendegradasi iman, melainkan memperdalam kekaguman akan kebesaran Sang Pencipta.
2. Spiritualitas dan Produktivitas: Kedalaman spiritual tidak menyebabkan lari dari dunia, melainkan memberi energi, ketenangan, dan motivasi intrinsik untuk berkarya optimal di dunia. Produktivitas tidak menjadi sekadar mengejar target, tetapi menjadi medan pengabdian (ibadah).
3. Individu dan Kolektif: Pengembangan diri (self-development) tidak berjalan egois, tetapi ditujukan untuk meningkatkan kapasitas memberi kontribusi (khidmah) kepada masyarakat. Kesalehan sosial adalah buah nyata dari kesalehan individu.
4. Tradisi dan Inovasi: Menghormati khazanah keilmuan tradisi Islam tidak berarti menutup diri dari inovasi. Justru, dengan berakar kuat pada identitas dan nilai etik (tsawabit), seorang sarjana Muslim dapat lebih percaya diri dan bijak dalam mengadopsi dan mengadaptasi hal-hal baru (mutaghayyirat).
Di sinilah letak inti pemaknaan ulang. Konsep "bertuhan" bagi Insan Kamil modern harus bergeser dari pemahaman yang teosentris-pasif menuju teo-aksiologis-aktif.
1. Bertuhan Teosentris-Pasif cenderung memandang hubungan dengan Tuhan sebagai urusan privat-vertikal yang terpisah dari urusan publik-horizontal. Tuhan diingat saat susah, dilupakan saat senang; dihubungkan di masjid, tapi diabaikan di pasar. Ibadah terasa "terpenjara" dalam ritual-ritual tertentu. Model bertuhan seperti ini rentan melahirkan kepribadian yang terbelah (split personality) dan profesionalisme yang sekadar mekanistik.
Komentar
Posting Komentar