Langsung ke konten utama

4 Cara Menghilangkan Riya menurut Imam Al-Ghazali


4 Cara Menghilangkan Riya menurut Imam Al-Ghazali




Penyakit batin yang rentan menjangkit hati orang mukmin adalah riya, yakni melakukan ibadah namun hatinya ingin mendapatkan perhatian atau pujian dari manusia. Penyakit “tak kasat mata” ini memiliki daya rusak yang luar biasa terhadap amal yang dilakukan. Oleh karena itu, para ulama mengingatkan umat Islam agar menghindari riya saat beribadah.

Di antara ulama tersebut adalah Imam Al-Ghazali, di dalam kitab Minhajul Abidin ia menjelaskan, ada 4 pengingat yang bisa dijadikan sebagai cara untuk menghilangkan riya saat beribadah, yakni sebagaimana berikut:

1. Menyadari Kekurangan Diri

Seorang muslim hendaknya menyadari bahwa dirinya adalah makhluk lemah yang penuh dengan kekurangan. Ketika sudah menyadari kekurangan yang ada dalam diri, tentu saja seorang muslim tidak akan berharap mendapatkan pujian, apalagi hanya dari manusia.

Imam Al-Ghazali kemudian mengutip firman Allah dalam Surat At-Thalaq ayat 12:

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّۗ يَتَنَزَّلُ الْاَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ەۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Artinya: “Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan (menciptakan pula) bumi seperti itu. Perintah-Nya berlaku padanya agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.”

Imam Al-Ghazali menjelaskan, ayat tersebut menjadi peringatan sekaligus teguran dari Allah kepada hamba-Nya. Seakan-akan Allah menegaskan bahwa penciptaan langit, bumi, dan segala isinya sudah cukup menjadi bukti agar manusia menyadari betapa besarnya kekuasaan Allah. Namun kenyataannya, masih saja ada manusia yang mengarahkan amalnya bukan kepada Allah, melainkan kepada makhluk yang sama sekali tidak memiliki kuasa apa pun.

2. Mengingat Kerugian Amal

Imam Al-Ghazali mengingatkan kepada umat Islam bahwa balasan amal atau pahala dari Allah itu sangat besar. Namun semua balasan itu tidak akan diberikan ketika amalnya sudah terinfeksi penyakit riya. Hal ini tentu saja akan menjadi kerugian besar karena amalnya tidak diterima oleh Allah.

Diumpamakan Al-Ghazali, orang yang beribadah namun tercampur riya itu seperti seseorang yang punya perhiasan mewah dan akan dibeli oleh penguasa dengan harga milyaran rupiah, namun pemilik perhiasan itu malah memilih menjualnya dengan harga seribu rupiah kepada orang lain. Hal ini tentu saja akan menimbulkan kerugian yang sangat besar.

Imam Al-Ghazali pun menjelaskan:

فاذا أنت أخلصت النية وجردت الهمة للآخرة حصلت لك الآخرة والدنيا جميعا

Artinya: “Apabila engkau mengikhlaskan niat dan mengarahkan tekadmu untuk akhirat, maka engkau akan memperoleh akhirat sekaligus dunia.” (Imam Al-Ghazali, Minhajul Abidin [Indonesia, Pustaka Islamiyah: t.t], h. 76)

Sebaliknya, jika kita beramal hanya mengharapkan dunia maka balasan untuk akhirat tidak akan didapatkan, bahkan bisa jadi balasan untuk dunia pun tidak akan sesuai harapan. Kalau pun didapatkan, bisa jadi hal itu akan segera hilang. Dalam kondisi seperti ini tentu akan menjadi orang yang rugi karena kehilangan dunia sekaligus akhirat.

3. Tidak Disukai Orang Lain

Imam Al-Ghazali mengingatkan, ketika seseorang beribadah namun malah mengharapkan pujian dari orang lain, mungkin saja orang lain tersebut tidak suka dengan ibadah yang sedang dilakukan. Bisa jadi, ketika orang tersebut mengetahui bahwa amal itu ditujukan kepadanya, mungkin saja dia akan memandang hina atau bahkan merasa jijik.

Untuk itu, saat seorang hamba melakukan amal ibadah hendaknya selalu menjaga hati agar tetap fokus karena Allah dan tidak menjadikan manusia sebagai tujuannya.

4. Memilih Rida Allah

Bagi seorang muslim, rida Allah harus dijadikan sebagai prioritas karena rida-Nya jauh lebih utama daripada rida manusia. Dianalogikan Imam Al-Ghazali, rida Allah seperti ridanya seorang raja sedangkan rida manusia seperti ridanya budak yang hina. Ketika seseorang riya dalam beribadah, seolah dia sedang mencari rida budak padahal rida seorang raja sedang menanti.

Demikian 4 pengingat yang disampaikan Imam Al-Ghazali sebagai hikmah agar seorang hamba dapat terhindar dari penyakit riya, yaitu menyadari kelemahan diri, mengingat kerugian amal, merasa orang lain tidak senang jika ada amal yang ditujukan kepadanya, dan memilih rida Allah daripada rida manusia. Wallahu a’lam.

( sumber : https://kemenag.go.id/hikmah/4-cara-menghilangkan-riya-menurut-imam-al-ghazali-H8DIE ).


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adakah Dalil Mencium Tangan Guru dalam Islam?

 Adakah Dalil Mencium Tangan Guru dalam Islam? Tradisi mencium tangan guru, kiai atau ustadz masih lekat dalam kehidupan masyarakat muslim Indonesia, terutama di lingkungan pesantren dan majelis taklim. Aksi ini sering dipahami sebagai bentuk penghormatan kepada orang berilmu. Namun, di tengah maraknya diskusi tentang kemurnian ajaran Islam, muncul pertanyaan: Apakah mencium tangan guru memiliki dasar dalam Islam? Praktik Para Sahabat Mencium tangan saat bersalaman bukanlah praktik baru dalam sejarah Islam. Dalam satu riwayat disebutkan, para sahabat pernah mencium tangan bahkan kaki Nabi Muhammad sebagai wujud penghormatan: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ خُلَيْدٍ ، قَالَ : نا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى الطَّبَّاعُ ، قَالَ : نا مَطَرُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الأَعْنَقُ ، عَنْ أُمِّ أَبَانَ بِنْتِ الْوَازِعِبْنِ الزَّارِعِ ، عَنْ جَدِّهَا الزَّارِعِ ، وَكَانَ فِي وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ : لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ ، جَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا ، فَنُقَبِّلُ يَدَيِ ا...

Menanam Iman di Bumi Hijau: Jejak Dakwah Rusman Lajuha Tola

 Menanam Iman di Bumi Hijau: Jejak Dakwah Rusman Lajuha Tola Di tengah gempuran modernisasi dan krisis lingkungan, peran penyuluh agama sering dianggap terbatas pada ceramah dan pembinaan umat. Namun, bagi Rusman Lajuha Tola, penyuluh agama Islam dari Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, dakwah tidak berhenti di mimbar masjid. Ia memilih jalannya sendiri — menyampaikan pesan keagamaan lewat gerakan pelestarian alam yang ia sebut Dakwah Hijau. Gerakan ini mengajak masyarakat untuk melihat lingkungan bukan sekadar sumber daya, tetapi sebagai amanah Tuhan yang harus dijaga dengan cinta dan tanggung jawab. Rusman memulai kariernya sebagai penyuluh agama pada tahun 2010 di KUA Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru. Saat itu, ia mengaku sempat ragu menekuni profesi ini. “Dari segi finansial memang tidak menjanjikan, tapi entah kenapa profesi ini terasa sangat menarik,” kenangnya. Setahun kemudian, Rusman benar-benar jatuh cinta pada dunia penyuluhan. Ia menemukan makna dalam memba...

Relevansi Agama di Kalangan Generasi Muda

 Relevansi Agama di Kalangan Generasi Muda Fenomena pemuda dengan perilaku yang sangat frontal dan sulit untuk diarahkan salah satu alasannya ialah kurangnya pengetahuan agama. Agama sebagai jalan hidup pemberi rambu-rambu yang jelas menjadi sebuah keharusan bagi setiap orang mempelajari serta menjalankan apa yang diyakininya. Korelasi kemuduran moral dan intelektual pemuda saat ini terjadi implikasi pembelajaran agama yang seolah tidak diajarkan dengan terstruktur bahkan terkesan diabaikan. Jika dirunut jumlah sekolah atau bahkan guru agama di seluruh pelosok negeri sangat banyak, tentu menjadi sebuah ironi. Apa yang sebenarnya membuat pemuda dengan tingkat pengetahuan dan aktualisasi agama yang mundur. Dalam prakteknya, pengajaran agama sedikit berbeda dari pengajaran yang lain yakni dibutuhkan ketekunan dan kefahaman untuk menjelaskan maksud dan tujuan sebuah ajaran agama tersebut. Akselerasi zaman yang menjadi cambuk dalam dunia pendidikan, memacu adrenalin para guru untuk bera...