Langsung ke konten utama

Ketika Agama Dibahas di Kolom Komentar

 Ketika Agama Dibahas di Kolom Komentar 


Pada  waktu lalu, saya membaca komentar di sebuah unggahan video ceramah yang sebenarnya cukup singkat. Isinya sederhana yaitu “mengingatkan tentang ibadah dan akhlak”. Tapi yang menarik bukan videonya melainkan komentarnya. Ada orang yang setuju, ada orang yang menyanggah, ada juga orang yang saling menyindir dengan membawa dalil masing-masing.

Disitu aku berhenti sejenak dan mulai berpikir: kenapa ya, obrolan soal agama di zaman sekarang rasanya lebih sering ribut daripada menenangkan?

Pada saat ini, agama tidak hanya hadir di masjid, gereja, atau rumah ibadah. Agama juga hadir di media sosial seperti Instagram, FYP TikTok, dan status WhatsApp. Setiap orang bisa mudah sekali untuk berbagi kutipan ayat, potongan ceramah, bahkan opini keagamaan dalam hitungan detik.

Ini tentu sebuah hal baik. Akses terhadap ilmu agama jadi lebih terbuka dan lebih meluas. Banyak orang yang awalnya jauh dari agama justru mulai tertarik dengan agama karena konten-konten digital yang ringan dan sangat relevan. Namun, di saat yang sama, ruang digital juga membuat agama rentan untuk mudah disalahpahami.

Potongan satu menit sering kali kehilangan konteks. Pesan yang seharusnya mendalam berubah menjadi bahan perdebatan.

Saya percaya, kebanyakan orang yang berkomentar soal agama sebenarnya punya niat baik. Mereka ingin meluruskan, memperbaiki, mengingatkan, atau berbagi kebenaran yang diyakininya. Tapi niat baik tidak selalu berbanding lurus dengan cara penyampaian yang baik.

Di media sosial, komunikasi agama sering terasa sangat kaku, bahkan sampai emosional. Kata-kata seperti “sesat”, “tidak sesuai sunnah”, atau “kurang iman” mudah sekali dilontarkan. Padahal, satu kalimat itu saja bisa mengubah diskusi menjadi konflik/perdebatan.

Tidak semua ruang cocok untuk dijadikan tempat dakwah. Kolom komentar media sosial  bukan sebuah ruang dialog, melainkan ruang pelampiasan emosi. Ketika agama dibicarakan di ruang seperti itu tanpa adab komunikasi, justru pesan yang seharusnya menyejukkan ternyata malah memicu jarak.

Banyak orang akhirnya alergi dengan konten agama, bukan karena tidak butuh, tapi karena lelah dengan cara penyampaiannya. Ini kontradiksi yang perlu kita sadari bersama.

Ilmu agama memanglah sangat penting. Tapi dalam berkomunikasi sosial, rasa juga tidak kalah penting. Rasa untuk memahami bahwa tidak semua orang berada di titik pemahaman yang sama. Rasa untuk memilih kata yang tidak melukai orang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adakah Dalil Mencium Tangan Guru dalam Islam?

 Adakah Dalil Mencium Tangan Guru dalam Islam? Tradisi mencium tangan guru, kiai atau ustadz masih lekat dalam kehidupan masyarakat muslim Indonesia, terutama di lingkungan pesantren dan majelis taklim. Aksi ini sering dipahami sebagai bentuk penghormatan kepada orang berilmu. Namun, di tengah maraknya diskusi tentang kemurnian ajaran Islam, muncul pertanyaan: Apakah mencium tangan guru memiliki dasar dalam Islam? Praktik Para Sahabat Mencium tangan saat bersalaman bukanlah praktik baru dalam sejarah Islam. Dalam satu riwayat disebutkan, para sahabat pernah mencium tangan bahkan kaki Nabi Muhammad sebagai wujud penghormatan: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ خُلَيْدٍ ، قَالَ : نا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى الطَّبَّاعُ ، قَالَ : نا مَطَرُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الأَعْنَقُ ، عَنْ أُمِّ أَبَانَ بِنْتِ الْوَازِعِبْنِ الزَّارِعِ ، عَنْ جَدِّهَا الزَّارِعِ ، وَكَانَ فِي وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ : لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ ، جَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا ، فَنُقَبِّلُ يَدَيِ ا...

Menanam Iman di Bumi Hijau: Jejak Dakwah Rusman Lajuha Tola

 Menanam Iman di Bumi Hijau: Jejak Dakwah Rusman Lajuha Tola Di tengah gempuran modernisasi dan krisis lingkungan, peran penyuluh agama sering dianggap terbatas pada ceramah dan pembinaan umat. Namun, bagi Rusman Lajuha Tola, penyuluh agama Islam dari Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, dakwah tidak berhenti di mimbar masjid. Ia memilih jalannya sendiri — menyampaikan pesan keagamaan lewat gerakan pelestarian alam yang ia sebut Dakwah Hijau. Gerakan ini mengajak masyarakat untuk melihat lingkungan bukan sekadar sumber daya, tetapi sebagai amanah Tuhan yang harus dijaga dengan cinta dan tanggung jawab. Rusman memulai kariernya sebagai penyuluh agama pada tahun 2010 di KUA Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru. Saat itu, ia mengaku sempat ragu menekuni profesi ini. “Dari segi finansial memang tidak menjanjikan, tapi entah kenapa profesi ini terasa sangat menarik,” kenangnya. Setahun kemudian, Rusman benar-benar jatuh cinta pada dunia penyuluhan. Ia menemukan makna dalam memba...

Relevansi Agama di Kalangan Generasi Muda

 Relevansi Agama di Kalangan Generasi Muda Fenomena pemuda dengan perilaku yang sangat frontal dan sulit untuk diarahkan salah satu alasannya ialah kurangnya pengetahuan agama. Agama sebagai jalan hidup pemberi rambu-rambu yang jelas menjadi sebuah keharusan bagi setiap orang mempelajari serta menjalankan apa yang diyakininya. Korelasi kemuduran moral dan intelektual pemuda saat ini terjadi implikasi pembelajaran agama yang seolah tidak diajarkan dengan terstruktur bahkan terkesan diabaikan. Jika dirunut jumlah sekolah atau bahkan guru agama di seluruh pelosok negeri sangat banyak, tentu menjadi sebuah ironi. Apa yang sebenarnya membuat pemuda dengan tingkat pengetahuan dan aktualisasi agama yang mundur. Dalam prakteknya, pengajaran agama sedikit berbeda dari pengajaran yang lain yakni dibutuhkan ketekunan dan kefahaman untuk menjelaskan maksud dan tujuan sebuah ajaran agama tersebut. Akselerasi zaman yang menjadi cambuk dalam dunia pendidikan, memacu adrenalin para guru untuk bera...